Cerpen: Wea

 

Cerpen: Wea

Wea


Di suatu zaman di bagian Timur Nusantara, hiduplah seorang ibu bernama Ines dan putri tunggalnya, Wea. Mereka tinggal jauh dari permukiman kampung dan hidup berkecukupan setelah ayah Wea meninggal karena diterkam hewan buas saat mencari kayu di hutan.


Sehari-harinya, Wea dan ibunya bertahan hidup dengan menanam hasil pertanian di kebun dekat rumah. Namun, tanaman mereka sering rusak karena dimakan oleh hewan hutan seperti babi dan kera. Hal ini kadang membuat Wea gusar, tetapi ibunya sering mengingatkan tentang pentingnya hidup selaras dengan alam. Ibu Wea juga mengajarinya cara merawat alam. Anehnya, tidak semua tanaman mereka rusak, hanya bagian yang berada di pinggir kebun, berbatasan langsung dengan hutan.


Suatu hari, Wea menemukan seekor hewan aneh yang belum pernah dilihatnya. Hewan itu menyerupai rusa tetapi memiliki mata di tengah dahinya dan ekor panjang seperti singa. Di pahanya terdapat luka tusukan benda tajam yang cukup parah.


Wea merasa takut dan sedikit panik, tetapi dia mencoba mendekat. Saat itu, terdengar suara, "Jangan takut. Aku tidak akan mencelakaimu."


Wea semakin takut karena suara itu berasal dari hewan aneh tersebut. Dengan gugup, Wea bertanya, "Apa engkau bisa berbicara?" Hewan itu menjawab, "Ya, aku bisa. Tolong bantu obati lukaku ini. Aku tidak bisa berjalan." Wea menganggukkan kepala dan berlari ke rumah. Dia mengambil obat herbal dan kain perca, tetapi tidak memberitahukan ibunya. Saat hendak keluar, ibunya bertanya, "Wea, kamu mau ke mana?"


"Aku mau bermain, Bu," jawabnya sambil tersenyum dan menyembunyikan obat di balik punggung mungilnya.


Sesampainya di dekat hewan tersebut, Wea menaburkan obat pada lukanya dan menutupnya dengan kain perca. Setelah beberapa lama, hewan itu berdiri dan berkata, "Terima kasih. Ambillah tandukku yang patah ini. Jika kalian mengalami kesulitan, gunakanlah dengan bijak." Setelah itu, hewan tersebut menghilang ke dalam semak-semak.


Suatu ketika, musim kemarau panjang melanda. Banyak tanaman rusak dan warga kampung gagal panen. Begitu pula dengan kebun Wea, yang mengering karena sumur tidak lagi mengeluarkan air. Saat itu, Wea teringat akan tanduk pemberian hewan tersebut. Diambilnya tanduk itu, lalu ia memohon agar kebunnya tidak gersang dan sumur mereka dipenuhi air.


Kejadian ajaib pun terjadi: sumur yang tadinya kering kini penuh air, dan airnya tak pernah surut meski daerah mereka dilanda kekeringan. Sejak saat itu, Wea dan ibunya terus bertani dengan hasil yang melimpah, menjual sebagian untuk kebutuhan mereka dan menyimpan sisanya. Hidup mereka pun menjadi lebih makmur.