Saku Celana

Dokumentasi Pribadi


Singkat saja pertanyaanku pagi itu, membuka ruang yang nyaris kedap suara.
“Apa kabar kemarin? Masih terlalu lama sampai, Det?”

Pertanyaan itu dijawab dengan tatapan dingin dari wajah runcingnya, tatapan yang selama ini membuatnya dikenal sebagai orang yang hemat kata, dan lebih sering menyisakan jarak dalam sikap.

Jeda yang terlalu panjang membuat sesuatu dalam diriku meruak. Aku muak. Aku beranjak, meninggalkan ruang tamu yang terasa semakin dingin.

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Det adalah kakak sulungku. Gitaf kakak kedua, satu-satunya perempuan di rumah ini. Kami tumbuh dalam keluarga yang serba pas-pasan. Namun, Ayah dan Ibu punya satu kebiasaan yang tak pernah mereka kurangi: membeli buku.

Di kamar mereka, ada perpustakaan kecil, kumpulan buku yang sudah ada sejak mereka masih bujang. Mama gemar membaca sastra, jenis yang kadang membuatku jungkir balik memahami maksudnya.

Mungkin karena itu, rumah ini terbiasa hening. Padahal suara selalu ada, dari radio, dari televisi, dari dunia luar yang tak pernah benar-benar diam. Tapi entah bagaimana, semuanya seperti teredam.

Dingin yang tak tertahankan membuatku beranjak ke ruang keluarga. Saat menyibak tirai, kulihat Bapa duduk di sana. Dari tadi, rupanya ia mendengar percakapan kami.

Wajahnya datar. Garis-garis halus di permukaannya mulai mengeras dan mengkerut, raut yang entah sejak kapan terasa akrab. Ia membaca Vizo di ponselnya, menggeser layar tanpa henti.

“Apa air keran keluar?” tanyanya tanpa menoleh.

“Sudah dari minggu lalu tidak lancar,” jawabku, sedikit bingung, lebih banyak kesal.

Aku melangkah ke kamar. Pakaian kotor menumpuk di atas tempat tidur. Sambil memilah mana yang bersih dan mana yang tidak, pikiranku justru melompat pada sesuatu yang lain, sesuatu yang terjadi setahun lalu. Sesuatu yang diam-diam mengubah arah percakapan kami. Mengubah cara kami saling melihat. Dingin itu mulai dari sana, lalu perlahan membeku, dan selalu kembali seperti alarm setiap kali liburan tiba.

Air belum juga mengalir. Hujan justru tak berhenti turun.

Aneh memang. Kotamu dikenal sebagai kota hujan, tapi warganya kesulitan air. Bahkan di musim hujan, keran sering tak mengeluarkan apa-apa. Kami hanya mengandalkan air yang jatuh dari langit, untuk mencuci, membilas, atau sekadar menghapus sisa-sisa yang menempel, entah di pakaian atau di dalam diri.

Kadang, hujan terasa seperti lelucon yang kering.

Aku mengangkut pakaian ke mesin cuci. Di bawah ujung talang, masih ada sisa air hujan dalam drum. Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai.

Pagi merambat pelan menuju pukul sepuluh ketika aku mulai memilah pakaian satu per satu.

Tanganku berhenti pada sehelai kaus lusuh berwarna abu. Milik Det. Sudah lama tak kulihat ia memakainya. Bau lembapnya seperti menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar kering, seperti percakapan kami setahun lalu.

Waktu itu hujan juga turun tanpa jeda. Aku masih ingat bagaimana kata-kataku meluncur terlalu jauh, seperti air yang tak bisa ditarik kembali ke keran. Det tidak banyak menjawab. Ia hanya diam. Sejak itu, ia seperti menutup pintu, pintu yang bahkan tak pernah benar-benar kubuka.

Mesin cuci mulai berputar. Pelan, lalu semakin cepat. Air di dalamnya berisik, seolah mencoba menenggelamkan sesuatu. Tapi tidak ada yang benar-benar hilang. Tidak juga yang kukatakan malam itu.

Di luar, hujan masih jatuh dengan setia. Aneh, pikirku, air begitu banyak, tapi kami tetap kehausan.

Aku mulai memasukkan tangan ke saku-saku celana yang hendak kucuci. Koin. Kertas bon. Plastik kusut. Sisa-sisa hari yang tak pernah selesai.

Sampai pada satu celana yang sudah lama tak kupakai. Saku kanannya terasa lebih berat.

Di dalamnya, ada secarik kertas kecil, terlipat rapi, seperti sengaja disembunyikan dari siapa pun. Bahkan dariku sendiri.

Kubuka perlahan.

Tulisannya tidak rapi. Seperti ditulis tergesa. Atau mungkin ragu.

Maaf.

Hanya satu kata.

Tanganku tiba-tiba terasa dingin. Lebih dingin dari lantai, dari air, dari hujan yang sejak tadi tak berhenti.

Aku mencoba mengingat. Kapan aku menulisnya. Untuk siapa.

Tidak ada jawaban.

Hanya satu kemungkinan yang terus mengetuk pelan di dalam kepala.

Bahwa kata itu memang tidak pernah ditujukan untuk siapa pun.

Bahwa selama ini, aku hanya menyimpannya. Di tempat yang sempit. Yang gelap. Yang jarang sekali kusentuh.

Seperti saku celana ini.

Mesin cuci terus berputar. Air berisik. Mengaduk. Menghapus. Atau mungkin hanya memindahkan kotoran dari satu tempat ke tempat lain.

Di luar, hujan semakin deras.

Aku menatap kata itu sekali lagi.

Lalu tiba-tiba aku sadar,

kalau pun aku mengingatnya sekarang,

kepada siapa sebenarnya aku harus mengatakan maaf itu,

jika sejak awal aku bahkan tidak pernah benar-benar berani memanggil namanya?