Angin dari lembah Poco Ranaka datang tanpa bau apa pun sore itu kering, dingin, dan asing. Lorens terbangun di beranda rumah kayu peninggalan orang tuanya dengan telapak tangan basah oleh keringat, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh. Sawah di depannya tampak diam, tidak ada burung, tidak ada suara ayam, bahkan bambu-bambu itu berdiri kaku seperti sedang menahan napas. Untuk pertama kalinya, Lorens merasa tanah yang membesarkannya berhenti berbicara.
Lorens pulang dari kota seperti seseorang yang kembali ke rumah orang mati. Setelah bertahun-tahun belajar dan sebentar mengajar, ia memilih kembali dengan satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala: menulis dari kampung, menulis dengan bahasa tanah bahasa yang dulu menghidupkan doa, syair, dan nama-nama leluhur. Bahasa tanah harus tetap hidup, bisiknya.
Tapi kampung itu tidak menyambutnya. Jalan-jalan tanah yang dahulu mengotori telapak kaki kini hitam dan licin oleh aspal. Pohon beringin di simpang tiga tempat orang dulu berjanji dan berselisih sudah tumbang, meninggalkan tunggul seperti bekas luka yang dibiarkan terbuka. Dari arah bukit, suara mesin tambang meraung tanpa jeda, menggerus sunyi yang dulu hanya dipecahkan oleh kokok ayam. Lorens sadar, ia pulang membawa kata-kata, tapi kampungnya telah kehilangan suara.
Lorens teringat masa kecilnya, ketika malam tidak pernah benar-benar gelap. Di natas bate labar, halaman rumah adat yang luas, ia dan anak-anak lain berlari di bawah bulan, menari danding mengikuti gong dan gendang, menirukan syair-syair adat yang mereka hafal setengah paham dari mulut orang tua. Saat itu, tanah adalah halaman permainan, bahasa adalah napas; setiap kata menjejak, setiap tawa berakar. Segalanya terasa utuh.
Kini, halaman itu sunyi. Anak-anak duduk membungkuk di hadapan layar gawai, jari-jari mereka lebih akrab dengan kaca daripada tanah. Bahasa Manggarai jarang terdengar, tergeser oleh bahasa Indonesia yang dingin, kadang diselipi kata-kata asing yang tak punya silsilah. Lorens tidak membenci kemajuan, ia hanya merasa sesuatu sedang diambil perlahan, tanpa suara, tanpa pamit.
Suatu sore, ia menemui Ama Yustin, tetua adat. Mereka duduk di compang, lingkaran batu persembahan leluhur yang mulai ditumbuhi lumut.
“Ama,” tanya Lorens, “apakah orang-orang masih percaya tanah ini hidup?”
Ama tertawa pendek, tanpa gembira.
“Dulu kami percaya,” katanya. “Sekarang orang lebih percaya pada besi dan uang.”
Ama Yustin menarik napas panjang. Pandangannya berjalan pelan mengikuti hamparan sawah yang menguning, seperti sedang menghitung usia lingko.
“Tanah ini hidup, Nak,” tuturnya lirih. “Ia bernapas bersama kita, menjaga natas dan mbaru gendang. Tapi kitalah yang sering lupa memanggil namanya. Kita memperlakukannya seperti barang yang bisa dipindah tangan. Padahal tanah adalah tubuh kita sendiri dari rahimnya kita keluar, ke dadanya kita kembali, dan di pangkuannya kita disimpan.
Lorens terdiam. Kata-kata itu menempel di benaknya.
Malam itu, Lorens menulis. Ia memanggil tanah sebagai ibu yang sabar, memanggil bahasa sebagai napas, memanggil manusia sebagai anak-anak yang sering lupa jalan pulang. Kata-kata datang dan kembali, datang dan kembali, seperti langkah di halaman adat.
Hidupkan bahasa tanah, sebab di sanalah kita berdiri.
Hidupkan bahasa tanah, sebab dari sanalah kita bermula.
Tanpa tanah, kita daun kering lepas, hanyut, hilang.
Tanpa bahasa, kita tubuh bisu tak bernama, tak bersejarah.
Hidupkan bahasa tanah,
agar akar tetap menahan kita,
agar ingatan tidak tercerabut,
agar kita tahu ke mana harus pulang.
Tulisan itu dibacakan Lorens di mbaru gendang. Orang-orang datang pelan-pelan: anak muda dengan wajah ragu, ibu-ibu yang membawa ingatan, bapak-bapak dengan beban di pundak, juga para tetua adat yang duduk tenang di lingkaran tiang utama. Ketika Lorens mulai membaca, suara-suara perlahan menghilang.
Beberapa anak muda menunduk, tersadar betapa jarang lidah mereka menyebut bahasa ibu. Seorang ibu mengusap matanya, teringat tanah leluhur yang baru saja berpindah tangan.
Tapi sunyi itu tak bertahan lama. Tua Goris bangkit dari duduknya. Suaranya keras, memantul di dinding kayu mbaru gendang.
“Lorens, kata-katamu indah,” katanya. “Tapi hidup tidak hidup dari syair. Kami perlu uang, perlu sekolah untuk anak-anak, perlu jalan agar panen bisa dijual. Apa arti bahasa dan tanah kalau perut kosong?”
Ruangan segera riuh. Ada yang berdiri membela, ada yang mengangguk setuju. Kata-kata saling bersilang, seperti tali yang ditarik dari dua arah di tengah natas.
Lorens memilih diam. Ia tahu, pertarungan antara perut dan akar tidak pernah adil dan tidak pernah selesai dengan satu jawaban.
Hari-hari berikutnya, suara besi semakin akrab dengan kampung. Alat berat merayap mendekati pemukiman, seperti makhluk asing yang tak mengenal batas. Sebidang ladang jagung milik keluarga tetangga Lorens diratakan. Tanah yang dulu ditanami doa dan harapan berubah menjadi tumpukan batu. Anak-anak yang biasa berlari di sana kini berdiri di tepi jalan, menatap diam—seolah menyaksikan masa kecil mereka sendiri digusur.
Lorens merasa perih, perih yang tidak tahu harus disimpan di mana. Ia lalu menulis. Sebuah artikel ia kirimkan ke media lokal, berjudul “Bahasa Tanah yang Digusur”. Di sana ia menegaskan: modernisasi tidak seharusnya menebang ingatan, pembangunan tidak boleh mencabut identitas. Tulisan itu bergerak cepat, menyeberang kampung, menyeberang pulau, sampai ke kota-kota besar di luar Flores. Nama Lorens mulai disebut-sebut.
Namun dikenal tidak berarti diterima. Di kampungnya sendiri, bisik-bisik mulai tumbuh. Sebagian orang menyebutnya penghalang pembangunan. “Lorens terlalu banyak bicara,” kata mereka. Ada pula yang menertawakannya sebagai pemimpi yang kenyang kata-kata, tapi tak paham perut yang lapar.
Pada suatu malam, Lorens dipanggil kepala desa. Di bawah lampu redup, suara lelaki itu terdengar berat, seperti menahan sesuatu.
“Lorens,” katanya, “aku tahu niatmu baik. Tapi orang-orang punya kebutuhan. Kata-katamu sudah sampai ke mana-mana. Jangan sampai kata-kata itu justru membuat kampung ini saling melukai.”
Lorens menunduk. Ia tahu, menjaga bahasa tanah bukan pekerjaan ringan, bukan pula jalan yang cepat.
Beberapa hari kemudian, langkahnya membawanya ke wae bate teku, mata air tempat orang kampung biasa menimba hidup. Di sana ia bertemu Maria, gadis muda yang kerap membantunya. Suaranya pelan, seperti takut mengganggu air yang mengalir.
“Kak,” katanya, “mungkin tidak semua orang mengerti kata-kata Kakak. Tapi kami, anak-anak muda, membutuhkannya. Kalau tidak ada yang menulis, siapa yang akan mengingatkan kami siapa diri kami?”
Kata-kata itu tinggal lama di dada Lorens. Ia kembali menulis, kembali mengajar anak-anak mengeja, kembali memanggil syair-syair adat yang nyaris terlupa. Di bawah atap sederhana, mereka menulis cerita, puisi, bahkan lagu dalam bahasa Manggarai.
Perlahan, sesuatu tumbuh. Lidah-lidah muda mulai berani menyebut akar mereka sendiri. Bahasa yang hampir padam kembali menemukan nafas pelan, rapuh, tapi hidup.
Puncaknya terjadi pada upacara adat syukuran panen. Lorens diminta memimpin doa. Ia memulainya dalam bahasa Manggarai, dengan syair yang pernah diajarkan neneknya:
“Wela agu ame, wa’i agu ine, tana agu ai,
kami kembali bersyukur.
Dari rahim-Mu kami lahir,
kepada rahim-Mu kami kembali.”
Suara itu bergema di mbaru gendang, menyatu dengan denting gong dan denyut gendang. Orang-orang tertegun. Untuk sesaat, waktu seperti beringsut mundur menghadirkan kembali getar kehidupan lama yang nyaris hilang, namun belum mati.
Lorens tersenyum kecil. Ia tahu, modernisasi tak mungkin dibendung sepenuhnya. Jalan akan terus dibuka, mesin akan terus datang. Namun ia juga percaya: selama masih ada yang menulis, berbicara, dan menuturkan kembali bahasa tanah, kehidupan itu tak akan benar-benar padam.
Malam itu, di beranda rumah kayu, Lorens menatap langit bertabur bintang. Pena di tangannya bergerak pelan, seperti mengikuti napas bumi. Ia berbisik pada tanah yang diam, namun hidup:
“Bahasa tanah, tetaplah bernapas.
Sebab engkaulah jantung,
yang membuat kami tahu,
bagaimana caranya tetap menjadi manusia.”
