![]() |
| Sumber: id.pinterest.com |
Sebuah Pembacaan Semiotik Roland Barthes atas Project Hail Mary
Ada satu kebiasaan yang selalu saya lakukan setiap kali selesai menonton sebuah film. Saya tidak terburu-buru mematikan layar, tidak pula segera membuka media sosial untuk membaca ulasan orang lain. Saya memilih duduk beberapa saat dalam diam. Membiarkan kredit penutup berjalan hingga selesai, mendengarkan musik terakhir menghilang perlahan, lalu membiarkan setiap adegan yang baru saja saya saksikan kembali berputar dalam ingatan. Saya percaya bahwa sebuah film yang baik tidak pernah benar-benar selesai ketika durasinya berakhir. Justru setelah layar menjadi gelap, film mulai hidup sebagai pengalaman berpikir. Ia menetap sebagai ingatan, berubah menjadi pertanyaan, kemudian perlahan membuka makna-makna yang sebelumnya tersembunyi.
Perasaan itulah yang saya alami setelah menyaksikan Project Hail Mary. Awalnya saya mengira film ini hanya akan menjadi tontonan fiksi ilmiah yang memamerkan kecanggihan teknologi, eksplorasi ruang angkasa, dan berbagai teori astronomi sebagaimana lazimnya karya-karya adaptasi dari novel Andy Weir. Dugaan itu tidak sepenuhnya keliru. Film ini memang menyajikan berbagai konsep ilmiah yang rumit dengan visual yang memukau. Namun, semakin lama saya mengikutinya, saya menyadari bahwa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukanlah keberhasilan teknologi ataupun kemenangan ilmu pengetahuan. Film ini sedang berbicara tentang manusia.
Ketika layar akhirnya benar-benar padam, yang tertinggal dalam ingatan saya bukanlah pesawat luar angkasa, bukan pula organisme Astrophage yang menjadi ancaman bagi kehidupan di bumi. Yang terus menetap justru pertemuan dua makhluk dari dunia yang sama sekali berbeda. Saya terus memikirkan bagaimana dua individu yang tidak memiliki bahasa yang sama, tidak memiliki budaya yang sama, bahkan tidak memiliki bentuk tubuh yang sama, mampu membangun kepercayaan melalui usaha untuk saling memahami. Pada saat itulah saya merasa bahwa Project Hail Mary sesungguhnya bukan sekadar kisah penyelamatan bumi, melainkan refleksi mengenai bahasa, persahabatan, komunikasi, dan hakikat kemanusiaan.
Latar belakang saya sebagai lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia membuat saya terbiasa membaca setiap karya sebagai sebuah teks yang selalu menyimpan lebih dari satu lapisan makna. Selama menempuh pendidikan, saya belajar bahwa bahasa tidak pernah bekerja secara sederhana. Sebuah kata dapat mengandung sejarah yang panjang. Sebuah metafora dapat menyimpan ideologi. Sebuah dialog dapat menyembunyikan konflik yang tidak pernah diucapkan secara langsung. Bahkan sebuah keheningan dapat menjadi bentuk komunikasi yang paling kuat ketika kata-kata kehilangan kemampuannya menjelaskan pengalaman manusia.
Dari dunia sastra saya belajar bahwa membaca bukan hanya memahami apa yang ditulis pengarang, melainkan juga menafsir apa yang sengaja tidak dituliskan. Makna sering kali hadir bukan pada kalimat yang tampak, melainkan pada ruang-ruang kosong yang dibiarkan terbuka bagi pembacanya. Kesadaran itulah yang kemudian saya bawa ketika menikmati sebuah film. Saya tidak hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga berusaha membaca bagaimana cerita itu dibangun, bagaimana makna disusun, dan bagaimana pengalaman penonton diarahkan melalui berbagai sistem tanda yang bekerja di balik layar.
Di luar dunia bahasa, saya juga seorang perupa. Aktivitas berkesenian mengajarkan saya bahwa gambar memiliki tata bahasanya sendiri. Warna bukan sekadar unsur estetis. Cahaya bukan hanya alat penerang. Bayangan bukan sekadar lawan dari terang. Komposisi bukan hanya persoalan keseimbangan visual. Semua unsur tersebut merupakan bahasa yang bekerja secara diam-diam membentuk emosi, suasana, dan makna. Sebuah bidang kosong dapat berbicara lebih keras daripada bidang yang dipenuhi objek. Sebuah warna gelap dapat menghadirkan harapan, sementara cahaya yang sangat terang justru dapat melahirkan rasa sepi. Dalam seni rupa, tidak ada elemen visual yang benar-benar netral.
Cara pandang sebagai seorang perupa itulah yang kemudian memengaruhi cara saya menikmati sinema. Ketika banyak penonton larut mengikuti konflik cerita, perhatian saya sering kali justru tertuju pada bagaimana kamera ditempatkan, bagaimana cahaya dipantulkan, bagaimana warna dipilih, bagaimana ruang dibangun, bagaimana setiap objek disusun di dalam bingkai, dan bagaimana ritme penyuntingan mengatur emosi penonton. Saya selalu percaya bahwa sinematografi bukan sekadar persoalan teknis dalam produksi film. Sinematografi adalah bahasa visual. Kamera adalah mata yang memilih apa yang boleh kita lihat. Cahaya adalah diksi yang membentuk suasana. Warna menjadi metafora. Komposisi menjadi tata bahasa. Gerak kamera menjadi ritme yang menghidupkan pengalaman menonton.
Karena itulah saya sering memandang setiap adegan film sebagaimana saya memandang sebuah lukisan. Setiap bingkai adalah komposisi visual yang dirancang secara sadar. Tidak ada penempatan objek yang benar-benar kebetulan. Tidak ada pilihan warna yang sepenuhnya netral. Tidak ada ruang kosong yang hadir tanpa alasan. Seluruhnya merupakan sistem tanda yang mengarahkan penonton menuju pengalaman tertentu. Dalam pengertian ini, seorang sinematografer sesungguhnya bekerja layaknya seorang pelukis yang menggunakan cahaya sebagai cat dan kamera sebagai kuasnya.
Ketika menyaksikan Project Hail Mary, kesan tersebut terasa sangat kuat. Ruang angkasa yang luas saya lihat bukan hanya sebagai latar tempat berlangsungnya cerita, melainkan sebagai kanvas kosmik tempat cahaya, warna, ruang, dan kesunyian membangun makna secara perlahan. Hitam menjadi metafora tentang keterasingan manusia di tengah semesta. Cahaya bintang menjadi simbol harapan yang tetap bertahan meskipun dikelilingi kegelapan yang nyaris tak berujung. Kesunyian ruang angkasa tidak lagi terasa sebagai kekosongan, tetapi berubah menjadi bahasa yang mempertemukan dua makhluk dari dunia yang berbeda.
Semakin lama saya memikirkan film ini, semakin saya merasa bahwa Project Hail Mary sesungguhnya merupakan teks budaya yang sangat kaya. Ia tidak hanya berbicara mengenai sains, tetapi juga mengenai komunikasi, etika, solidaritas, dan keberanian memahami mereka yang berbeda. Film ini mengingatkan bahwa bahasa tidak selalu lahir dari kesamaan kosakata. Kadang-kadang bahasa justru lahir dari keinginan untuk mendengarkan. Persahabatan tidak selalu tumbuh dari kesamaan identitas, melainkan dari kesediaan untuk saling percaya.
Kesadaran tersebut membawa saya pada pemikiran Roland Barthes. Dalam semiotikanya, Barthes menjelaskan bahwa setiap tanda selalu memiliki lebih dari satu lapisan makna. Apa yang tampak di permukaan hanyalah denotasi. Di baliknya terdapat konotasi yang dibentuk oleh pengalaman budaya dan sejarah. Ketika konotasi diterima sebagai sesuatu yang tampak alamiah, ia berkembang menjadi mitos yang memengaruhi cara manusia memahami dunia. Pendekatan inilah yang saya gunakan dalam membaca Project Hail Mary. Saya tidak ingin berhenti pada cerita tentang penyelamatan bumi, tetapi berusaha melihat bagaimana film ini membangun makna melalui gambar, warna, cahaya, ruang, bunyi, dialog, dan berbagai simbol yang tersebar di sepanjang narasinya.
Tulisan ini bukanlah ulasan film dalam pengertian populer yang hanya menilai kualitas cerita, akting, atau efek visual. Tulisan ini merupakan sebuah pembacaan semiotik yang lahir dari perjumpaan antara pengalaman saya sebagai pembaca sastra, sebagai perupa, dan sebagai penikmat sinema. Saya meyakini bahwa film adalah salah satu bentuk karya seni paling kompleks karena mempertemukan sastra, seni rupa, musik, fotografi, teater, filsafat, dan teknologi dalam satu medium yang utuh. Oleh sebab itu, memahami sebuah film berarti juga memahami kebudayaan yang melahirkannya.
Melalui pembacaan ini saya ingin mengajak pembaca melihat Project Hail Mary bukan hanya sebagai kisah petualangan antarbintang, melainkan sebagai sebuah teks budaya yang berbicara tentang manusia. Sebab pada akhirnya, perjalanan yang paling jauh dalam film ini bukanlah perjalanan menuju bintang-bintang, melainkan perjalanan menuju pemahaman baru tentang bahasa, persahabatan, dan makna menjadi manusia di tengah semesta yang begitu luas dan sunyi.
*maaf baru menulis kagi

